Selasa, 04 November 2014

Seragam


Seragam


Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.
”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”
”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.
Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.
”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.
”Tanggung,” jawabnya.
Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.
Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.
Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!
”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!
Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.
Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.
”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.
”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.
Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.
Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.
”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”
”Ulahnya?” Dia mengangguk.
”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.
”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.
Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

ORA USAH NGAYA


Assalammualaikum Wr.Wb.
Pagi semuanya...?
Kami dari Osis SMA PANGKAH akan mempersembahkan Drama Komedi yang berjudul “ ORA USAH NGAYA” yang akan di perankan oleh:
                                                Sebagai Nata
                                                sebagai Dila
                                                sebagai feby
                                                sebagai Sifa
                                                sebagai Darojah
                                                sebagai Siti
                                                sebagai melly
                                                sebagai pak dosen
                                                sebagai Bu dosen
Dan drama ini disutradarai oleh untung dimas P.
Drama ini hanya untuk hiburan belaka, apa bila ada kesamaan nama, tokoh, karakter,kejadian, ataupun apa, kami mohon maaf dan jangan di ambil hati. Ok..!!
Inilah persembahan dari kami, selamat menyaksikan
@musik
Ujian nasional telah dilaksanakan, berbagai aktivitas dilakukan oleh siswa-siswi kelas XII ada yang magang kerja, ada yang nyiapin masuk perguruan tinggi Jalur tertulis, ada yang galau nunggu hasil pengumuman SNMPTN,ada yang sibuk cari lowongan kerja  atau bahkan ada yang sibuk mikirin pasangan hidupnya alias mbojo.
ADEGAN 1
hari ini cerah bersahabat, tapi tidak secerah wajah-wajah siswa siswi kelas XII,eitt tapi bukanya tidak lulus yahh, tapi biasa lah anak muda kalau di perhatikan itu selalu  karut marut,blita-blitu laka sing bisa di tiru
(nata masuk di ikuti oleh darojah, siti dan melly @musik giselle pencuri hati 00.38-)
tidak seperti biasanya,Nata tidak memakai pakaian sekolah,melainkan memakai pakaian bebas seperti mau pergi ke mall, tapi anehnya ko bawa tas besar, hembb nga tau deh maksud dia apa,..
dikejar – kejar  oleh fans beratnya dan terlihat sombong) sampai musik berhenti..
lalu iba-tiba dosen datang..
Dosen              : eh....!!! lagi pada apa nih!! Nga ada kerjaan banget minta-minta tandatangan sama anak kecil kaya gito, mending minta tanda tangan sama aku yang sudah pasti mahal, yahh.. satu tandatangan bisa mencapai satujutanan ditambah lagi PPN 50 % plus setoran hak cipta 20%. Hem!!. (sambil menolehkan muka agak terlihat sombong)
Melly               : lah apa mangsane pa dosen!padosen wis tua, mendingan dia masih muda, bahasa gaule kye bronies alias berondong manis.
Nata                 : udah udah kaga nga usah ribut aku ngga suka keributan, aku lebih suka ketenangan  karna ketenangan akan menghambat daya stres pada fikiran kita,dan juga akan sedikit menghemat energi pada diri kita.
Siti                   : (mlongo) ya ampun,, cool banget bahasanya, bikin hatiku klepek-klepek  melayanglayang di udara, terbang bersama planet planet indah di angakasa..
Darojah            :ya allah.. siti.. kamu kaga usah nggaya dehh.. manjat kelapa ajah kaga bisa, mau terbang keangkasa, yang ada kamu nunjleb kaya pesawat sukoi tuh..
Nata                 : sudah sudah aku bilang aku nga suka keributan, jadi otomatis aku juga nga suka sama anak-anak alay yang bahasanya bikin pusing,
Dosen              : ohh.. bagus deh kalo gitu.kalo kalo kalo kamu tidak suka.kaga usah kuliah disini ajah sekalian, karna disinituh emang kampusnya orang-orang alay, jadi kalo kalo kalo kamu tidak suka dengan orang-orang alay meandingan kamu out dari sini..
Melly               : lah pa dosen iri be..
Nata                 :udah... saya disini untuk mencari ilmu pa, jadi apapun yang terjadi disini aku akan hadapi dengan lapang dada.. (kata bu hesti itu)seperti kata pepatah witing tresno jalaran saka kulino, meski hati awalnya tak suka tapi jika terbiasa maka rasa suka itu akan tumbuh sendirinya dalam hati.. tapi mungkin 1 yang tidak akan aku lakukan, aku tidak mau ikut-ikutan menjadi anak alay, karna itu akan sedikit menggangu konsentrasiku dalam belajar.
Dosen              : alahh so puitis luh..
Nata                 : pa dosen yang ganteng (kaya pa....), kalo nga puitis ngapain aku daftar di universitas seni indonesia ini  , maaf semuanya aku mau ngelanjutin nyesein berkas berkas pendaftaran dulu yah, permisi.
Siti                   :iyahh hati hati yahh???
Nata                 : selamat pagi?
3 cewek           :pagi..(nata pergi)
Dosen              : apa lu liat-liat..
Darojah            : ihh sapa lagi yang liat liat.. ehh kita kan mau survei lapangan buat ospek mahasiswa nanti..yu kita lanjutin pekerjaan kita,,pralak- pralak biar cepet slesai
 Melly & siti     : yu capcus..
(mereka ber 3 pergi)
Dosen              : hembb.. sebenernya tuhh maha siswa gua pinter-pinter kaya siswa siswi sma pangkah.. calon maha siswanya juga nga kalah pinter ,tapi aku harus tetep anggap dia rendah biar dia itu slalu belajar dan aku juga harus tetep so jual mahal biar dikiranya aku itu dosen killer, semakin banyak mahasiswa yang mengakui gua killer semakin banyak juga rezeki buat gua..ya udah ahh gua mau makan dulu lumayan tadi habis dapet setoran..
(dosen pergi @ musikk)
ADEGAN 2
(feby dan dila masuk menggunakan pakaian tari (simpul)) @ musik
Dila                  :febi, sifa kemana si?? Jam segini belum datang juga, kebiasaan deh telat makanya kalo di sekolah pasti di hukum dulu sama guru piket , ibaratnya tuh udah langganan minta tandatangan surat masuk kelas sama pa suntoro sampai pa suntoro bosen
Feby                : iyahh bener banget tuh,, coba  Aku BBm’in dia dulu..(ngetik hp,..)
Dila                  : gimana feb?
feby:  nga terkirim..
(tiba- tiba sifa masuk dengan tergesa-gesa)
Syifa                : maaf aku telat(nada tergesa-gesa)
Dila                  : kebiasaan deh, nga heran kalo lu telat sekali kali ke datang pertama..
Feby                : iyah, untung sanggar tari kaga ada guru piket, jadi lu aman deh! kaga usah ada acara ngebersihin kaca dulu(ya nga bu erlinda)..
Syifa                : ya abis angkutanya kelamaan si..
Dila                  : udah kaga usah loe salah salahin angkutan, dasar kamunya ajah yang males, udah tau naik angkutan mbok ya tau diri, nunggu angkutanya lebih pagi, dasar orang ndesa..
Syifa                : iyahh dehh aku minta maaf, sik sik  ngomong- ngomong ada apa si kamu ngumpulin kita kita? Ada lomba tari lagi yahh.. wahh itu tah pasti kita juara lagi dong...
Febi                 : ah elahh.. lu kebanyakan berhayal lu..
Syifa                :terserah lah,,  yang penting kan kenyataanya kita selalu menang, malah kemarin di kirim ke provinsi lagi
(kaya tari............dari sma n 1 pangkah)
Dila                  : udah- udah  gini nih tujuan aku ngumpulin kalian disini adalahh...ehmm kita kan sudah LULUS UN,nilainya juga nga jelak-jelek amat, dan kita selama ini juga selalu latihan tari di sanggar gleges tebu (pimpinan bu dewi) ini, nah kenapa kita kaga masuk di fakultas seni aja, kita ambil seni tari gimana?
Syifa                : bener banget tuh!! Lagian dari dulu kali aku pengen masuk seni tari karna Dengan begitu kita kan bisa melestarikan tari-tarian daerah di seluruh indonesia, dan kita juga bisa mengekspresikan diri kita di bidang seni ini, lagian dengan kita menyukai seni hidup kita akan terasa indah..
Feby                : loe..(sambil nepuk-nepuk pipi syfa) tumben loe pinter, biasanya hemmm paling lola dan paling nyebelin..
Syifa                : iyah dong..ehmmm trus apa yang harus kita lakukan,?cari formulir, beli buku tes, atau masuk bimbingan universitas.?
Dila                  :nga usah! Kita langsung ajah daftar di universitas seni ajahh, tuh di universitas seni indonesia kan ada  jurusan yang akan kita pilih, lagian di situ juga kualitasnya baik ko dan di situ juga hanya mengunakan nilai raport dan nilai UN yakin lah kita masuk kita kan slalu ikut 10 besar..
Feby                : iyahhkualitasnya  baik,tapi..... maha siswanya alay-alay, kita emang mau jadi anak alay..?
Dila                  : itu si tergantung kitanya, kata(pa musofi) guru ku itu yah kalau kita niatnya  bener pasti semuanya juga akan jadi bener, dan sebaliknya kalau kita niatnya sudah salah semuanya juga akan jadi salah, dan semoga saja apa yang kita lakukan selama ini sudah bener.
Syifa                :maksud loe?kita jadi anak yang cupu gitu, nga boleh ikut ikutan ngaya..?
Dila                  : mendekati cupu kalo gue bilang, kita tetep bisa ngeksis ko, tapi bukan di sekolah, (kata pa totok ) di sekolah itu tempatnya kita menunut ilmu, bukan untuk ajang bergaya, tapi kalau di rumah saatnya kita beraksi dengan power yang kita miliki, jadi mereka yang di sekolah liat kita biasa-biasa ajah akan merasa heran dengan 1000 bahsanya,ketika kita sedang di luar sekolah tapi ingat jangan sampai kita berlebihan tetep jaga kontrol yahh..
Feby                :hah nga salah tuh dil! Ntar pamor gwe turun gimana?
Dila                  : pamor  turun?? menurut gue kaga lah,, karna dengan kita berpenampilan biasa ajah saat sedang belajar  kita akan merasa nyaman, tidak menjadi pusat perhatian yang akan membuat kepedean kita menjadi  hilang,apa lagi kalau sedang pelajaran trus pakaian kita melanggar dari aturan trus ada operasi/sidak pasti kita akan buyar dalam belajar, takut, kemrenteg atau bahkan cekelan meja kaya lagi di suruh maju fisika trus kaga bisa sama bu tuti dan pa suprapto. lagi pula dengan berpenampilan apa adanya kita akan menjadi diri kita sendiri yang nantinya akan menjadi suatu kekuatan tersendiri saat kita sedang menghadapi suatu masalah tapi dengan catatan kita harus berpenampilan rapi dan menarik. Jadi orang-orang yang melihat kita akan merasa senang.
Syifa                : bener banget tuh, sekarang kan memang lagi jamanya penampilan serba modern ikut-ikutan artis tapi ehh malah di salah gunain ahirnya rusak deh, inget artis itu di bayar tapi kita kan sekolah, kita malah yang bayar,dari kedua pilihan tadi ajah udah bertolak belakang jadi kita harus lupain deh gaya-gaya artis itu, bener apa kata dila sekarang kita berpenampilan biasa ajah seperti pelajar-pelajar biasanya.lagi pula kita masih punya iner beauty ko,selagi kita masih berprilaku yang baik inerbeauty itu akan selalu memancar pada diri kita
dila                  : nah tuh kamu tau..jadi sekarang kita siap daftar kan di universitas seni itu?
Sifa                  : siap dong..!!
Feby                :yu kita sekarang siapin berkas-berkas buat daftar di  universitas seni indonesia.
Dila dan sifa: ayo!!
(mereka bertiga pergi @musik)
ADEGAN 3
(nata masuk membawa map berkas- berkas pendaftaran @ musik)
(lalu di ikuti dila masuk membawa berkas pendaftaran  dan tabrakan dan keduanya saling menjatuhkan berkas pendaftaranya)
Dila                  : aduh maaf- maaf ka,!!
(lalu keduanya  mengambili berkas pendaftaran yang jatuh)
Nata                 : nga papa ko.. kenapa pangil aku kaka, aku baru calon maha siswa kali.
Dila                  : iyah maaf yahh..(dila langsung pergi)
Nata                 : ehh ..tunggu!!!..... dasar cewe aneh, tapi cakep juga si..
(bu dosen sudah siap di samping pangung untuk pendaftaran siswa baru)
Nata                 : permisi bu!! Aku mau daftar jadi mahasiswa di universitas ini..
Bu dosen         : iyah! Mana berkasnya..( bu dosen mengecek berkas).. bagus nilainya nanti tinggal nunggu pengumuman ajah yahh.
Nata                 : owhh gitu yah bu makasih yahh bu..
(nata pergi di ikuti kedatangan mahasiswa USI )
(lalu mereka ber 3 mendekati bu dosen)
Siti                   : Pagi bu maria, ???
Bu dosen         :pagi..
Darojah            :  bu gimana untuk pengumumanya siswa barunya? Kita sudah persiapakan matang-matang pelaksanaa ospek
Bu dosen         :bagus, insaya allah lusa.
Siti                   : bu ada yang gantenng nga bu?
Bu dosen         :ehh. Ternyata kalian Cuma mau cari cowo cakep(kaya pa.....) toh, udah udah sana pergi,!!
Siti                   :lah bu galak baget si..?
Bu dosen         : kono sekolah mukur luruhe bocah cakep  (kaya pa .........)bae,, udah- udah sana pergi,(3 cewe pergi) dasar semprul, anak sekarang yang di fikirin Cuma gitu-gitu ajah gimana wawasanya mau berkembang, sekali-kali bikin karya ilmiahke, tau bikin produk apa ke yang bisa di pamerin, kalo bisa biar dapet duit sekalianke biar bisa banggain orang tua.lagi lagi ketahuan mikirin pacar-mikirin pacar. Hembbpp.. ya udah lahh lupakan sajah,.
(lalu dila, sifa, feby masuk)
Feby                : permisi bu, kita mau daftar? 
Bu dosen         : ehh... kebeneran sekalih ini hari terakhir pendaftaran loh ,  iyah-iyah mana berkas-berkasnya..(mengecek berkas)berkasnya lengkap, nanti tinggal nunggu pengumuman ajah yah.
Dila                  : kira-kira kapan yah bu pengumumanya?
Bu dosen         : lusa.
Sifa                  : owh gitu yah bu, ya udah bu saya pamit dulu..permisi..
(3 cewe pergi di lanjut pa dosen masuk)
Pak dosen        : bu  gimana yang daftar banyak?
Bu dosen         : eh pak dosen ? sik-sikk tak chek disik (mengecek daftar)ya lumayan banyak lah
Pak dosen        : kita mau rapat kapan bu?
Bu dosen         : saiki wae yo  pa.?
Pak dosen        : yu kita pergi ke ruang rapat.
(dosen pergi keruang rapat)
Hari pengumuman pun tiba saatnya anak-anak melihat hasil pengumuman calon mahasiswa seni indonesia. Perasaan bangga terlihat dari mereka yang berhasil menjadi mahasiswa seni indonesia.
(semua anak kumpul di panggung berkumpul sesuai kelompoknya masing masing, mereka gembira melihat pengumuman karena mereka di terima di universitas seni indonesia hanya ada kakak kelas yang agak sombong)
Darojah            : heh (sambil mendorong dila)songong banget loe..
Melly               : maksud kamu apa ka?
Dila                  : udah lah nga usah di urusin. Yu kita pulang
Siti                   : eit mau kemana loe... (melihat daftar siswa)owh seni tari..
Sifa                  : emang kenapa kalau seni tari? Masalah?
Darojah            :masalah baget, orang desa, makanya krokot + sieng kaya kamu mau jadi mahasiswa di sini? Nga terfikrkan sebelumnya kali..
Melly               :trus mau kamu apa?
Darojah            : loe mau tau mau gue apa? Gue mau kita adu bakat nari,  siapa yang bagus itu yang menang. Gimana ? berani nga loe?
Sifa                  : ok siapa takut!!
Darojah            : kita buktikan nanti di pentas seni OSPEK, kita bettel! kalo, kalo, kalo kalian kalah kalian jagan macem –macem di sini,( geng kaka kelas pergi)
Sifa                  : eh gimana nih gue takut takut ?
Melly               :loh baru di tantang kaya gitu ajah sudah takut, inget teman masih banyak rintangan yang lebih menantang di depan kita,masa baru kaya gini ajah sudah nyerah, lagian tenang ajah kali kita kan sudah sering latihan selama ini, kita tinggal kolaborasiin antara tari modern dengantari tradisional yang pernah di ajarin sama bu dewi, jadi tari yang kita bawakan itu akan terkesan klasik tapi tidak  monoton
dila                  : ya udah beres kan, yu kita pulang.
( mereka pergi, lalu berpapasan dengan nata)
Nata                 : tunggu!! loe anak kemarin yang nabrak aku kan?
Dila                  : iyahh ...ada masalah??
Siti                   : aduh kayanya ada yang mau kenalan tuh,, kita pergi dulu yahh(mely dan siti pergi)
Dila                  : tunggu!! Ihh ko ditiggal si?
Nata                 : kenapa? Santai ajah kali,
Dila                  :ada apa dengan kemarin?ada yang luka atau kamu mau minta uang tebusan atau..(di potong oleh nata)
Nata                 :hust.. nga ko.. aku malah mau minta maaf,, kenalin aku nata dimas anggara reinaldi, biasa di pangil nata, kamu?(minta salaman)
Dila                  : aku dila. Udah yah aku pergi masih banyak yang harus aku slesein(dila pergi)
Nata                 : hempbb..masih ada yah cewe yang natural kaya gitu, nga kebanyakan gaya, nga alay, sopan jiwa perempuanya dapet  talagi,.. hemmmp  ko aku malah mikirin dia si.. jangan- jangan,, ahh ngaco dehh.
Hari ospek pun tiba, semua mahasiswa datang untuk menyaksikan betel antaramurid baru melawankakak kelas
“kini tiba saatnya betel, inilah geng darojah versus dila”
@Musik.
Darojah            : ternyata, aku salah menilaimu, aku hanya manilaimu dari luar saja, dan ternyata kemampuan kalian lebih dari yang aku kira, tapi ko kalian nga sombong si..
Feby                :iyah, seperti( kata pa murono) semakin berisi  padi itu akan semakin merunduk, artinya jika kemampuan kita bertambah maka akan semakin menunduk bukanya semakin sombong.
Dila                  : ah udah ah nga usah di permasalahkan, yang penting sekarang adalah kita bersatu, kita bersama-sama berjuang untuk memajukan universitas seni ini.
Melly               : bener baget tuh, sekarang kita bersatu untuk menjadi yang nomor satu, bukan untuk bersaing untuk menjadi yang paling asing.
Sifa                  : tapi menurutku bersaing mungkin boleh, tapi ada waktunya,  sekarang gimana caranya kita membagi waktu antara bersaing dan bersatu dalam belajar, ok..
Feby                : bener tuh,  bersatu, bersaing, dan manajemen waktu adalah yang harus kita terapkan dalam belajar meskipun kita pintar tanpa itu semua kita akan kalah dalam meraih prestasi, ingat itu.
Siti                   :Jadi mulai sekarang!!! Kita bersatu(berpelukan bersama)
(Semuamenumpuk tangan dan bilang YEEEE..??????) (semua pemain keluar tinggal ada nata dan dila di situ)
Nata                 : ternyata gaul juga yah cewe yang aku anggap natural ini..
Dila                  : ih apa si, paham ora.
Nata                 :ih ko paham ora sih? (ikut ikutan pa su ajah) kan jadi nga romantis
Dila                  :ih romantis- romantis apaan? Mau romantis, satu jutanan dulu sini, pralak- pralak. Masih kecil mau romantis- romantisan, dasar orang ndesa, ntar di marahin sama mamah tau..
Nata                 : jutek baget si..aku mau ngomong sesuatu sama kamu.?
Dila                  : apa?
Nata                 : aku.. aku.. aku suka sama kamu? Mau nga jadi pacar ku?
Dila                  : kenapa kamu milih aku kan masih banyak di luar sana yang lebih cantik?
Nata                 : karna kamu natural
Dila                  :ehmm.. gimana yah.. iyah dehh, aku mau jadi pacar kamu.
(ternyata teman-temanya ngintip di samping panggung)
Siti                   :cye, cye.. ada yang lagi jatuh cinta nihh..
Dila                  : ih apaan nih siti?
Pa dosen          : hay.. hay.. hay..!!! ada apa-ada apa?..... Oh pacaran yahh.. ya udah deh lanjutin
Bu dosen         : loh ko lanjutin si? Paham ora? Pa dosen ni dukanya ngajarin yang nga bener....Hu...(semua anak mengerumbuk padosen dan memukul2 pa dosen)
Setiap perbuatan dan berpenampilan kita, pasti akan di nilai oleh orang lain, jadi harus di fikirkan lagi yah dalam berbuat dan berpenampilan agar orang yang melihat kita merasa nyaman dan senang,jadi  PD akan selau ada pada diri kita.